a journey to the inner world

a journey to the inner world
The inner life is a journey, and before starting to take it there is a certain preparation necessary. If one is not prepared, there is always the risk of having to return before one has arrived at one's destination. When a person goes on a journey, and when he has to accomplish something, he must know what is necessary on the path and what he must take with him, in order that his journey may become easy and that he may accomplish what he has started to accomplish. The journey one takes in the inner life is as long as the distance between the beginning of life and death, it being the longest journey one ever takes throughout life; and one must have everything prepared, so that after reaching a certain distance one may not have to turn back.

Senin, 29 Juni 2009



Apa yang mesti kulakukan o Muslim? Karena aku tak mengenal diriku.
Aku bukan Kristian, Yahudi, Majusi dan bukan pula Muslim.
Aku tak berasal dari Timur atau Barat, tidak dari darat atau lautan.
Aku tidak dari alam, atau angkasa biru yang berputar-putar.
Aku tidak dari tanah, air, udara atau api.
Tidak dari bintang zuhra atau debu, tidak dari kewujudan dan wujud.
Aku tidak berasal dari India, China, Bulgar atau Saqsin.
Tidak dari kerajaan Iraq atau Khurasan.
Aku tidak berasal dari dunia ini, tidak dari alam akhirat,
Tidak pula dari surga atau neraka;
Tidak daripada Adam dan Hawa, atau Taman Eden dan Malaikat Ridwan
Tempatku tidak bertempat, jejakku tidak berjejak.
Aku bukan milik tubuh dan jiwa, aku milik jiwa Kekasih.
Kubuang dualitas, kupandang dua alam satu semata;
Satu sahaja yang kucari, Satu yang kukenal, kulihat dan kuseru
Dialah Yang awal dan yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin.

Minggu, 28 Juni 2009

MEDITASI



Keheningan adalah lahan subur untuk menyemaikan seluruh bibit-bibit keinginan.

Deepak Choppra



Manusia diyakini merupakan mahluk yang dibekali kesempurnaan dan memiliki lapisan-lapisan kesadaran yang bersifat holistik, mulai dari kesadaran fisik sampai dengan kesadaran kesemestaan.

Pengenalan, pengalaman, dan pemahaman terhadap kesadaran-kesadaran ini akan sangat membantu manusia dalam menentukan arah, makna, dan menikmati sukacita kehidupan secara lebih hakiki.

Meditasi merupakan teknik esoteris tertua untuk mengupas lapis demi lapis kesadaran manusia. melalui kuasa keheningan dan pelepasan sementara seluruh kelekatan yang ada.

Manfaat Meditasi
Ada sebuah bentuk meditasi, dinamakan mindfulness meditation yakni meditasi dengan tingkat berkesadaran yang penuh. Sejak jaman Tiongkok kuno, Konfusiusme, Taoisme dan Buddhisme semuanya telah menaruh perhatian pada saat duduk tenang. Mereka menyaring dan memurnikan pikiran lewat meditasi. Obat-obatan modern memastikan bahwa meditasi dapat menaikkan tingkat perhatian (sehingga lebih berkonsentrasi) dan berhubungan dengan masalah stress secara efektif, bahkan meredakan penyakit kronis. Semakin banyak orang barat yang telah mencoba bermeditasi dan menemukan banyak keuntungan darinya.

Tahun 1979, Dr. Jon Kabat-Zinn, mendirikan Stress Reduction Clinic (klinik untuk mengurangi stress) dan Center for Mindfulness (pusat peningkatan kesadaran secara total) di University of Massachusetts Medical Center, mempresentasikan tentang meditasi berkesadaran total (mindfulness meditation). Ia menyampaikan pelajaran dari 10 tahun pengalaman klinis dengan lebih dari 4.000 orang yang mengikuti kursus selama 8 minggu, dikenal sebagai Program Pengurangan Stress dan Relaksasi. Dr. Kabat-Zinn menegaskan kekuatan penyembuhan kesadaran penuh sebagai “sebuah pendekatan sistematik untuk mengembangkan semacam pengendali baru dan kebijakan dalam kehidupan kita, berdasarkan kemampuan diri untuk melakukan relaksasi, pemusatan perhatian, kesadaran dan pengetahuan.� Bentuk meditasi ini dapat digunakan untuk memperbaiki masalah medis seperti pusing, tekanan darah tinggi, sakit punggung, dan penyakit jantung. Semua ini berkaitan dengan stress (tekanan mental), yang selalu membayangi dalam hiruk pikuk kehidupan seseorang dan yang mengisi hidup dengan kegiatan monoton.

Apakah orang yang tanpa penyakit memerlukan meditasi? Melalui pengalaman para biksu yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk bermeditasi, para pakar menemukan bahwa meditasi meningkatkan kemampuannya mencapai kesadaran (kognitif). Bila anda adalah seseorang yang menyimpan peristiwa masa lalu di dalam hati dan selalu mengkhawatirkan masa depan, secara perlahan meditasi dapat mempengaruhi pandangan anda terhadap sesuatu dan mengarahkan anda memiliki suasana hati yang baik dalam jangka waktu lama. Melakukan meditasi satu jam per hari selama delapan minggu, maka akan memperoleh reaksi kekebalan tubuh (terhadap penyakit) yang kuat dan dapat mengembangkan struktur otak berkaitan dengan pemikiran yang positif.

Orang Timur dan Barat mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap meditasi. Di AS, meditasi tidak berhubungan dengan religi/agama. Di sana, meditasi justru dipandang sebagai olah raga untuk otak daripada pengarahan pikiran. Mereka menganggap kecerdasan manusia dapat dilatih seperti melakukan olah raga. Kita dapat melatih pikiran kita untuk mengurai emosi, menstabilkan perhatian/minat dan mengurangi kerentanan otak kita dari kebingungan dan kekacauan pikiran.

Budaya tradisional Timur menaruh perhatian pada teori manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam, pikiran dan materi saling berinteraksi satu dengan yang lain. Di samping meditasi, orang Timur menjunjung nilai watak/kualitas moral, menekankan pada moralitas dan melakukan kebaikan. Ketika pikiran manusia menjadi murni, tanpa pikiran yang tidak keruan, pikiran dan tubuh fisik akan berada pada kondisi yang optimum.

Spiritual Emotional Freedom Technique, Apa itu..??


SEFT merupakan sebuah gabungan dari S + EFT.
S yang mrupakan akronim dari Spiritual. dalam dunia kedokteran sekarang, spiritualitas masih di anak tirikan, namun Dokter dari Amerika yaitu Dokter Larry Dosey berkata lain. Beiau sudah melakukan penelitian dan riset melalui jalur iilmiah bahwa doa dan spiritualitas memiliki efektifitas yang sama dengan operasi pembedahan.

sedangkan EFT sendiri merupakan sebuah teknik Revolusioner yang telah diciptakan untuk menghilangkan masalah emosi pertama kali. Namun perkembangan selanjutnya, ternyata EFT juga bisa untuk menghilangkan masalah fisik yang berhungan dengan tubuh kita. setelah diuji coba bahwa hanya dengan ketukan-ketukan ringan tersebut efektifitasnya untuk menghilangkan sakit fisik maupun emosi bisa mencapai 80%.

Bapak Ahmad Faiz pun yang telah mngerti akan hal tersebut mulai menggabungkan keduanya sehingga terlahirlah teknik ini yang akan lebih powerful daripada S sendiri maupun EFT sendiri.


Bagaimanakah Penggunaan SEFT..??


Anda tidak perlu harus mengambil gelar kedokteran anda untuk bisa menguasai teknik ini, tidak juga anda harus lulus dalam kesarjanaan psykology seperti halnya Bapak Faiz Zainuddin. Teknik ini memang begitu simple nya sehingga orang yang pertama kali melihat mungkin akan skeptis bila teknik ini bisa membantu dalam proses penyembuhan anda.

Mengenai waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan rasa sakit, ini tidak bisa ditetapkan. Terkadang bahkan sebelum ditapping pun rasa ini sudah hilang, ini yang dinamakan magic moment. yaitu saat-saat peran spiritualitas begitu besarnya sehingga anda tertarik ke zona kekuasaanNya yang lebih tinggi. sehingga anda sembuh sekejap.

mungkin bapak-ibuk akan bertanya . ya, memang kami sering mengalami hal yang dinamakan dengan magic moment ini. tapi tentu saja masih lebih sering yang lainnya. yaitu kami harus berusaha beberapa kali menTapping. dan perkiraan waktu rata-rata kami untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan adalah sekitar 25 menit. inilah sebenarnya waktu yang sering menjadi patokan kami dalam menghilangkan atau mengurangi rasa sakit. intinya, saya tidak ingin judul artikel ini terlalu bombastis, namun saya juga tidak ingin judul artikel ini biasa saja, karena saya benar-benar tahu seberapa Dahsyat teknik ini.

Penggunaan Teknik ini yaitu dengan mengetuk-ngetuk ringan pada titik-titik tertentu di bagian kepala. kurang lebih ada 6 titik dan di badan sekitar3 titik.

Rabu, 17 Juni 2009

Reinkarnasi : Fakta Atau Omong Kosong?

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.

Rumi


Apakah kemampuan supernormal merupakan fakta, omong kosong, takhayul ataukah hanya kebetulan belaka? Ada banyak kisah orang yang memiliki kemampuan super ini, seperti kemampuan menyelidiki kejadian masa lalu, kemampuan dapat memindahkan dan merasakan suatu obyek yang tidak dapat dilakukan oleh indera manusia biasa. Sejak jaman kuno, teka-teki ini telah membangkitkan rasionalitas orang, akan tetapi pada tahun 70-an, para ilmuwan 'detektif ingatan' mulai memahami ada suatu misteri dalam diri kita.

Apakah kita hanya memiliki satu atau beberapa kali kehidupan? Pernahkah Anda merasakan perasaan 'dejavu' atau perasaan seperti 'pernah berada di sini sebelumnya'?

Menurut pikiran detektif, kita pasti telah mengalami banyak hal pada kehidupan masa lalu dan akan terlahir kembali ke dalam individu lain sampai kita mencapai sebuah keadaan yang absolut (dapat terlepas bebas dari lingkaran samsara dan hidup abadi, atau mengalami kemusnahan total jiwa raga). Berikut ini tiga kasus reinkarnasi menarik yang telah diteliti para ahli.

Kasus pertama

Arnall Bloxham adalah seorang hypnoterapist tahun 70-an di Welsh. Lebih dari 20 tahun ia menghipnotis beberapa ratus orang dan mencatat seluruh pembicaraan tentang kehidupan masa lalu dan masa kelahiran kembali mereka.

Bloxham adalah ahli dalam bidang yang disebut para hipnotis sebagai 'eksperimen regresi kehidupan masa lalu'. Dalam kondisi bawah sadar pasiennya, Bloxham menuntun si pasien kembali pada saat kelahirannya, bahkan jauh sebelum masa itu.

Bloxham adalah presiden British Society of Hypnotherapist. Dia menggunakan hipnotis untuk menyembuhkan penyakit fisik pasien seperti merokok. Apa yang ditelitinya dalam percobaan di bidang regresi hipnotis ini, telah menantang logika manusia. Para pasien dapat menghubungkannya dengan kehidupan masyarakat ratusan tahun silam dengan sangat detail.

Untuk membuktikan hal yang nampaknya tidak masuk akal ini, Bloxham telah merekam pembicaraan 400 pasiennya tentang kehidupan masa lalu mereka. Banyak hal-hal detail dalam rekaman yang memperkuat fakta. Menurut Bloxham bukti kuat ini sangat mendukung kebenaran kepercayaan kuno tentang reinkarnasi.

Salah satu kasus pasien Bloxham, Jane Evans misalnya. Regresi Jane pada kehidupan masa lampaunya dimulai pada 1971, dimana dia melihat sebuah poster yang bertuliskan "Arnall Bloxham mengatakan penyakit encok (rheumatism) adalah psikologis".

Saat itu Jane adalah seorang ibu rumah tangga yang berusia 32 tahun. Jane menderita penyakit rheumatoid arthritis. Dia menganggap pernyataan tersebut sangat menga-gumkan, oleh karenanya dia memutuskan untuk menemui pria dalam poster tersebut.

Dengan melalui seorang teman suaminya, dia akhirnya dapat bertemu Bloxham dan menguak enam kehidupan masa lampaunya. Jane pernah menjadi istri seorang guru pada jaman Romawi, pernah sebagai seorang Yahudi yang dibunuh masal pada abad ke-12 di York, pernah sebagai pelayan pangeran saudagar Perancis pada abad pertengahan, pernah sebagai pelayan Catherine of Aragon, pernah sebagai pelayan miskin di London pada masa pemerintahan Ratu Anne dan sebagai biarawati di Amerika pada abad ke-19.

Kisah Jane Evans dan beberapa contoh reinkarnasi lainnya yang telah dibukukan pada 1975 oleh produser televisi BBC, Jeffrey Iverson dengan judul More Lives Than One?. Demi mendapatkan pembuktian teori reinkarnasi, Iverson meminta ijin Jane untuk membiarkan Bloxham menghipnotisnya sekali lagi dengan direkam kamera televisi BBC dan tape recorder.

Iverson meneliti detail beberapa kehidupan lampau Jane, serta membuktikan keterangan detail Jane dalam rekaman sungguh ditemukan faktanya. Pada akhir buku tersebut, dia menuliskan bahwa Bloxham selama dua puluh tahun berupaya keras mendukung konsep reinkarnasi. Dia juga memproduseri sebuah film dokumenter BBC yang berjudul "Rekaman Bloxham".

Kasus kedua

Orang yang meragukannya, telah mengkaitkan fenomena ini dengan apa yang 'detektif ingatan' sebut sebagai 'cryptomnesia', yakni suatu kondisi mengingat kembali pada hal-hal yang Anda lupa bahwa pernah mengetahui sebelumnya. Akan tetapi jika ingatan tersebut begitu jauh jaraknya, menurut logika dapat diyakini sebagai reinkarnasi.

Menurut Dr. Arthur Guirdham, ahli reinkarnasi Inggris ternama lainnya, penjelasan ini tidak dapat dibandingkan dengan kasus yang pernah dialaminya sendiri. Guirdham menuliskan pengalamannya ini dalam bukunya "We Are One Another", "The Cathars & Reincarnation" dan buku autobiografinya "A Foot in Both Worlds".

Guirdham, seorang pensiunan psikiatris nasional Inggris, telah memimpin sekelompok kecil orang-orang yang percaya bahwa dirinya adalah seorang Cathars di kehidupan masa lalunya. Kelompok religius ini eksis di daerah Languedoc, Perancis barat daya pada abad ke-13.

Sebuah insiden yang membawa Guirdham pada teori reinkarnasi, dimulai 1962. Dalam departemen pasien rawat jalan di sebuah rumah sakit tempat Guirdham bekerja sebagai psikiatris.

Pada suatu hari, pasien terakhirnya adalah seorang wanita muda yang menarik dan tampak normal. Wanita itu mengeluhkan mimpi buruknya yang dialami sejak remaja, namun saat ini malah sering muncul, dua-tiga kali seminggu. Dalam mimpinya, dia berbaring di lantai dan seorang pria menghampirinya dari belakang. Selanjutnya dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi yang pasti membuatnya sangat ketakutan.

Meskipun Guirdham tetap tenang dan berusaha tidak menganggapnya, namun dia tidak bisa menyembunyikan kekagetannya ketika mendengar bahwa pasiennya menceritakan mimpi buruk yang serupa dialaminya selama lebih dari 30 tahun.

Doktor itu sangat penasaran akan tetapi dia tidak mengatakan apa pun pada pasiennya. Pasien itu pada akhirnya tidak pernah bermimpi buruk itu lagi sejak bertemu dengan Guirdham, begitu juga halnya dengan Guirdham. Mimpinya berhenti seminggu setelah bertemu pasien tersebut.

Pertemuan mereka terus berlanjut, Guirdham yakin mental wanita tersebut tidak terganggu, dan pengetahuan masa lalunya bukan tipu muslihat. Beberapa waktu ke-mudian, wanita itu memberikan sebuah daftar nama, yang dikatakan eksis pada abad ke-13 dan menceritakan hal yang terjadi pada mereka. Dia juga mengatakan bahwa Guirdham juga berada diantaranya dan bernama Rogiet de Cruisot.

Sebagai seorang psikiatris, Guirdham telah mengambil beberapa dasar informasi tentang reinkarnasi, namun tidak pernah begitu antusias. Akan tetapi dengan adanya kasus ini, dia memutuskan untuk meneliti. Dia menemukan nama-nama yang diberikan pasiennya sungguh akurat, meskipun hanya dikatakan dalam catatan sejarah Abad Pertengahan yang tidak jelas. Meskipun catatan tersebut ditulis dalam bahasa Perancis dan tidak pernah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, pasien Guirdham dapat menjelaskan seluruh anggota sekte Cathar, suatu kelompok yang berkembang di daerah Selatan Perancis dan Italia Utara pada Abad Pertengahan. Sekte Cathar mempercayai rein-karnasi.

Selang beberapa waktu, Guirdham akhirnya bertemu banyak orang yang memiliki pengalaman hidup masa lalu di kelompok Cathar, totalnya 11 orang.

Tidak satupun individu tersebut yang pecandu obat ataupun terhipnotis. Nama dan peristiwa masa lalunya muncul begitu saja dalam pikiran mereka, katanya. Guirdham juga memiliki potongan bukti yang paling luar biasa diantara yang berhasil dia kumpulkan. Bukti tersebut berupa hasil sketsa seorang anak perempuan berusia 7 tahun. Menggambarkan situasi yang terjadi di zaman silam, termasuk nama-nama anggota sekte Cathar. "Ini diluar nalarku, bagaimana bisa seorang anak usia 7 tahun dapat mengetahui nama-nama ini di saat saya tidak pernah berpikir bahwa ada seorang ahli dalam sejarah abad pertengahan Inggris yang mengetahui keberadaan mereka."

Sejumlah ingatan samar-samar mereka, nama dan hubungannya telah meyakinkan Guirdham bahwa dia bersama kelompoknya telah hidup bersama tidak hanya satu kali, namun beberapa kali kehidupan. Dia mengatakan,"Dengan 40 tahun pengalaman dalam bidang medis, tak satu pun saya mengetahui perbedaan antara pengalaman seorang paranormal dan seorang schizophrenic atau mungkin saya sendiri yang tidak waras. Tak satu pun dalam kelompok kami yang gila, dan tidak satu pun kolega saya yang mengatakan tidak waras.

Kasus ketiga

ian-stevenson

Ian Stevenson

Seandainya ada daftar ahli terkemuka tentang reinkarnasi, Dr. Ian Stevenson, seorang professor Psikiatri dari University of Virginia, pastilah namanya tercantum. Dia telah berkeliling dunia untuk menyelidiki berbagai laporan reinkarnasi dan menemukan sebuah pengujian yang teliti untuk menghindari penipuan, crytomnesia dan sebagainya. Diantara lebih dari 200 kasus, hanya 20 kasus yang tahan uji oleh Dr. Stevenson yang dapat dikategorikan kasus reinkarnasi. Tujuh dari kasus ini muncul di India, tiga di Srilanka, dua di Brazil, satu di Lebanon dan tujuh diantaranya terdapat di suku Indian di Alaska.

Ambil contoh seorang gadis cilik yang lahir 1956 di Sri Lanka tengah, dengan nama Gnantilleka Baddewithana. Setelah dia mulai belajar berbicara, dia mengatakan nama ayah dan ibunya di lain tempat, juga memiliki dua kakak laki-laki dan banyak saudara perempuan. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh gadis tersebut, orang tuanya dulu berada di sebuah kota yang cukup jauh jaraknya. Mereka akhirnya menemukan bahwa keluarga tersebut telah kehilangan anak lelakinya pada tahun 1954. Saat Gnantilleka mengunjungi keluarga itu, dia mengatakan bahwa dirinya adalah anak laki-lakinya yang meninggal itu dan mengenal semua tujuh anggota keluarga tersebut. Padahal kedua keluarga tersebut tidak pernah bertemu ataupun mengunjungi kota kedua belah pihak.

Kesimpulan

Orang yang meragukan reinkarnasi bisa jadi menolak teori ini sebagai suatu kebohongan, sementara itu yang tidak mempercayai akan mengatakan sebagai takhayul yang tidak berdasar.

Tak peduli apakah Anda mempercayainya atau tidak, sejak zaman dahulu kala, kepercayaan di timur seperti Buddhisme dan Taoisme telah mendukung teori ini dalam kepercayaan mereka. Mereka percaya pada teori sebab akibat, dengan kata lain hubungan antara ada sebab dan ada akibatnya.

Mereka percaya bahwa segala tindak tanduk seseorang dalam kehidupan ini, seluruh perbuatan baik serta perbuatan jahatnya akan menerima balasannya. Teori ini mengatakan bahwa kekuatan alam dari Hukum Kosmis (disebut juga Hukum Semesta) akan melakukan hal ini. Perbuatan seseorang, baik atau jahat akan termanifestasi akibatnya pada kehidupan masa kini atau di kehidupan mendatang, baik itu sebagai takdir keberuntungan, atau takdir kemalangan, atau juga balas jasa dan lain sebagainya, tergantung pada kasus tersebut.

Atheis menganggap teori ini sebagai contoh 'sindrom fatalistis'. Atheis percaya bahwa kehidupan adalah apa yang seseorang dapat penuhi segala keinginannya, takdir seseorang terletak pada dirinya sendiri.

Kebalikannya, penganut Tao mempercayai seseorang akan menuai apa yang dia ta-burkan. Hal ini menjelaskan salah satu teori Taoisme tentang delapan macam takdir reinkarnasi seseorang, seperti kekayaan vs kemiskinan, kehormatan vs kerendahan hati, panjang umur vs umur pendek.

Mungkin inilah alasannya mengapa Buddhisme pada 2.500 tahun yang lalu hingga kini mengajarkan teori "enam jalur samsara (reinkarnasi)". Dan mungkin juga hal ini dapat menjadi alasan untuk lebih memperhatikan nasehat leluhur kita untuk mematuhi pepatah kuno, "Perbuatan baik akan mendatangkan kebajikan dan perbuatan buruk akan menerima balasan."

Selasa, 16 Juni 2009

Hukum Keseimbangan Alam


Semakin kurang anda mementingkan diri sendiri,
semakin besar peluang hidup anda berlimpah.

Semakin banyak anda tertawa,
semakin kurang anda marah.

Semakin banyak anda menderma,
semakin banyak hidup anda diperkaya dari hari ke hari.

Semakin banyak anda memiliki kasih,
semakin besar pula peluang menikmati kasih orang lain.

Semakin banyak anda memperhatikan orang lain,
semakin banyak pula anda diperhatikan orang lain

Semakin banyak anda memberi senyum orang lain,
semakin berkurang anda mendapat cemberut orang lain”

~~~
Alam memiliki kontrol untuk mengatur keseimbangan. Newton sendiri sudah menemukan rahasianya yang dikenal sebagai hukum aksi-reaksi. Coba anda lihat bola tenis. Semakin kencang dilempar ke bawah, semakin kencang pula terpelanting ke atas.

Demikian juga manusia yang ada di alam ini. Kalau kita memberi ke alam, berderma untuk orang lain, suatu waktu alam akan membalasnya, ada rejeki yang datang dari arah yang tak disangka. Demikian juga sebaliknya. Kalau kita mengambil dari alam, korupsi, maka suatu waktu alam akan memintanya, diberi sakit yang biaya dan dampaknya justru lebih banyak yang dikorupsi.

Berdermalah! Meski itu hanya seulas senyuman. Dan bersiaplah untuk menerima kejutan dari derma anda ini.

Sabtu, 13 Juni 2009

New Age: Karakteristik Gerakan New Age


New Age adalah sebuah kecenderungan beragama yang sedang terjadi di masyarakat, terutama masyarakat Barat. Walaupun mendapat tentangan dari para pemuka agama formal, gerakan New Age tidak mengalami stagnasi bahkan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Aneka publikasi dan buku tentang New Age diterbitkan dan mendapat respon yang baik dari masyarakat. Bahkan, New Age telah menjadi sebuah kategori dalam sikap bertuhan sehingga toko-toko buku menempatkan buku-buku New Age dalam sebuah kelompok di luar kelompok agama-agama yang sudah mapan.
Di Indonesia, gerakan New Age baru mulai menggeliat. Selain di kota-kota besar, gerakan ini juga mulai menyebar di kota kecil, semisal komunitas Sambhala yang ada di kota Pekalongan dan secara tegas menyatakan dirinya sebagai bagian dari gerakan New Age. Selain dipopulerkan melalui pelatihan di kelompok-kelompok spiritual lintas agama, perkembangan New Age di Indonesia juga didorong oleh kehadiran novel spiritual ?Celestine Prophecy? karangan James Reidfield. Celestine Prophecy adalah salah satu buku populer yang menggambarkan prinsip-prinsip spiritual sebagaimana yang diyakini para New Agers dan pada saat ini banyak digunakan sebagai rujuk-an dalam pelatihan-pelatihan spiritual di Jakarta. Sebenarnya, New Age sendiri adalah sebuah gerakan keagamaan yang sangat luas dan tidak homogen. Gerakan ini dibentuk oleh gerakan individu yang heterogen yang berbagi keyakinan atau pandangan dunia yang sama tentang berbagai isu. Pada awal kemunculannya di Amerika, gerakan ini dipicu oleh apa yang dipersepsi sebagai kegagalan Kristen dan Humanisme Sekuler untuk memberikan petunjuk spiritual dan etik untuk masa depan. Berbeda dengan sebagian besar agama formal semacam Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha; New Age tidak mempunyai kitab suci, organisasi terpusat, keanggotaan, ritual khusus, ataupun dogma. Mulai populer di Amerika sejak tahun 1970-an, gerakan New Age merupakan gerakan spiritual yang mengalir bebas di mana pelaku (practitioners) dan orang-orang yang meyakininya (believers) menjalin komunikasi longgar satu sama lainnya tanpa sebuah ikatan formal yang mengikat. Sebagai ganti ibadah formal dan ritual agama, para pengikut New Age berinteraksi melalui buku, seminar, workshop, atau pelatihan.
Tidak ada sebuah keyakinan yang seragam diantara para pengikut New Age. Tetapi ada beberapa keyakinan dasar yang diyakini oleh banyak pengikut New Age dan sering digunakan sebagai alat pengelompokan gerakan New Age. Wal aupun begitu, tidak ada paksaan bagi para pengikut New Age untuk memilih keyakinan dan praktek yang paling sesuai dengan diri mereka. Fleksibilitas memilih ?dogma? dan ?ritual? itulah yang menjadi ciri utama gerakan New Age.
Diantara keyakinan dasar para pengikut New Age yang sering membuat ikatan diantara mereka adalah:


  • Monisme: keyakinan bahwa semua yang eksis diturunkan dari satu sumber energi yang kekal.
  • Pantheism: keyakinan bahwa semua yang eksis adalah Tuhan; Tuhan adalah semua yang eksis. Semua itu secara natural membawa pada konsepsi sifat ilahiah dalam diri individu karena kita semua adalah perwujudan Tuhan. Mereka tidak mencari Tuhan sebagaimana diwahyukan di dalam kitab-kitab suci atau ada di surga nun jauh di sana. Mereka mencari Tuhan di dalam diri mereka dan melalui seluruh semesta.
  • Panentheisme: keyakinan bahwa Tuhan adalah segala sesuatu yang eksis. Tuhan adalah seluruh semesta dan T uhan di atas semesta.
  • Reinkarnasi: keyakinan bahwa sesudah mati, kita terlahir dan hidup lagi sebagai makhluk lain. Siklus ini berulang berkali-kali. Keyakinan ini serupa dengan konsepsi peralihan jiwa (transmigration of soul) dalam agama Hindu.
  • Karma: keyakinan bahwa kejadian baik dan buruk yang kita terima merupakan akumulasi dari catatan kehidupan kita sebelumnya. Pada akhir kehidupan, kita dibalas sesuai dengan hitungan karma kita melalui kelahiran kembali (reinkarnasi) dengan kehidupan yang lebih baik atau kehidupan yang lebih buruk.
  • Aura: keyakinan bahwa setiap benda termasuk tubuh manusia mempunyai lingkaran energi yang mengelilinginya. Energi itu tak terlihat bagi kebanyakan orang, tetapi dapat dideteksi oleh orang yang terlatih sebagai bentuk yang berpendar, berwarna-warni mengelilingi tubuh. Aura diyakini sebagai tanda yang dapat digunakan untuk mendeteksi kesehatan fisik, mental dan spiritual seseorang.
  • Transf ormasi Pribadi: keyakinan bahwa sebuah pengalaman spiritual yang dialami sendiri dapat mengarahkan seseorang pada penerimaan terhadap keyakinan dan praktek-praktek New Age. Transformasi pribadi ini digunakan untuk mengembangkan potensi diri, kemampuan mengobati diri sendiri dan orang lain, serta lebih memahami cara kerja semesta. Pada masanya nanti, ketika cukup banyak orang yang mengalami transformasi pribadi, sebuah transformasi yang bersifat sosial diyakini akan terjadi di dunia.
  • Tanggung Jawab Lingkungan: sebuah keyakinan tentang urgensi untuk menjaga kesehatan bumi, yang sering dilihat sebagai sebuah entitas yang hidup.
  • Agama Universal: keyakinan bahwa hanya ada satu realitas yang eksis karena semua adalah Tuhan. Agama-agama sesungguhnya hanya merupakan jalan yang berbeda menuju realitas puncak (Tuhan). Agama universal dapat divisualisasikan dengan sebuah gunung dengan banyak sadhanas (jalan spiritual) menuju puncak. Sebagian sulit, se bagian yang lain mudah. Tidak ada satu jalan tunggal yang benar. Semua jalan pada akhirnya dapat mencapai puncak. Para New Agers mengantisipasi datangnya sebuah agama universal baru yang mengandung elemen dari keyakinan saat ini yang akan muncul dan diterima secara umum di seluruh dunia.
  • Zaman Baru: ada sebuah utopia tentang era baru, pemerintahan dunia, akhir peperangan, penyakit, kelaparan, polusi, dan kemiskinan. Semua bentuk diskrimasi akan berakhir. Perjuangan kesukuan dan nasionalisme akan digantikan dengan sebuah kepedulian pada seluruh dunia dan penduduknya.

Sekilas tentang NLP dan Hipnosis


1. Tentang NLP

NLP adalah kependekan dari Neuro Linguistik Programming. Teknik NLP ini dikembangkan oleh seorang ahli Matematika/Computer Programming (Dr. Richard Bandler) dan seorang Profesor Linguistik (Dr. John Grinder)

Sepemahaman saya, konsep ini berarti bagaimana memprogram atau memodifikasi sistem syaraf dengan menggunakan bahasa yang tepat untuk meningkatkan kemampuan dalam mengubah, mengadopsi, atau pun menghapus perilaku sesuai keinginan serta meningkatkan kemampuan untuk memilih sendiri kondisi mental, emosional, dan fisik.

Ibaratnya begini, saat kita mengoperasikan komputer, biasanya menggunakan buku manual kan. Misalnya, buku manual office, corel draw, photoshop, dll. Nah, NLP adalah manual program otak kita.

Metafora program ini menjadi menarik karena sebuah program tentu dapat di-instal, di-uninstal, di-recode, dan di-reinstal. Berbagai perilaku, kemampuan, keyakinan, dan nilai-nilai yang kita miliki bisa diubah sesuai dengan manfaat yang diberikannya.

Ketika, misalnya, sebuah keyakinan sudah kadaluarsa, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tetap mempertahankannya.

Dan ketika kita membutuhkan kemampuan baru, maka tidak ada alasan untuk tidak segera menginstal kemampuan yang baru. Dan seterusnya.

Maka mempelajari NLP akan membuat kita sadar mengapa kita menjadi seperti sekarang dan bagaimana supaya bisa menjadi seperti yang kita inginkan.

Telusurilah kata-kata yang pernah di-instal ke dalam pikiran-perasaan Anda dan dengan mudah ia akan membukakan fakta blueprint dari model dunia Anda saat ini.

Sehingga menjadi lebih mudah bagi Anda – dan saya – untuk menjadi tuan bagi diri sendiri, yakni dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan respon yang kita inginkan. Maka berhati-hatilah dalam berkata-kata, sebab ia akan menjadi program dalam pikiran-perasaan Anda.

2. Tentang Hipnosis

Pikiran kita seperti gunung es. Yang muncul di permukaan adalah pikiran sadar. Padahal yang jauh lebih besar adalah yang di bawah permukaan.

Pikiran kita seperti gunung es. Yang muncul di permukaan adalah pikiran sadar. Padahal yang jauh lebih besar adalah yang di bawah permukaan.

Jika diruntut ke dalam mainstream psikologi, metode hipnosis dikembangkan berdasarkan pemahaman bahwa pikiran manusia terdiri dari 2 fungsi, yaitu pikiran sadar (conscious) dan pikiran bawah sadar (unconscious).

Ini untuk penyederhanaan saja karena menurut Sigmund Freud – pendiri psikoanalisis- sistem fungsi pikiran sebenarnya ada 3, yaitu conscious, sub-conscious dan unconscious.

Kondisi hipnosis adalah saat kita berada pada kondisi mirip tidur dengan gelombang otak theta (saya akan memperdalam tulisan tentang gelombang otak ini di kesempatan lain).

Dalam kondisi hipnosis/trance tersebut, kita menjadi sangat sugestif/mudah dipengaruhi. Karena pikiran sadar yang bertugas memfilter informasi, menganalisis, dll diturunkan peranannya.

Digantikan pikiran bawah sadar yang biasanya bertugas menyimpan memori, program dan pola perilaku, serta mengatur berbagai fungsi organ tubuh.

Sadarkah Anda bahwa setiap hari kita masuk dan keluar kondisi hipnosis/trance ini berkali-kali? Hanya levelnya saja yang ringan.

Misalnya saat terhanyut menonton tv (jadi pandai-pandailah memilih program acara), membaca buku, mendengarkan musik, hingga saat bersama sang pujaan hati.

Saat ini hipnosis sudah ilmiah dan modern. Diteliti dan dikembangkan mengunakan metodologi yang sangat teruji. Diakui keberadaannya oleh berbagai lembaga internasional, termasuk lembaga medis.

Kamis, 11 Juni 2009

Mitos di Seputar Hypnosis
Artikel By Kirdi Putra

Mitos 1: Seorang ahli Hipnotis mampu mengontrol pikiran saya

Fakta: Tidak ada seorangpun yang dapat mengontrol pikiran kita, kecuali kita memperbolehkannya. Tidak ada sekalipun waktu kita bisa kehilangan kontrol terhadap pikiran kita sendiri, bahkan ketika kita tidur sekalipun. Pikiran (bawah sadar) kita mampu untuk selalu mengetahui sugesti yang tidak kita setujui, atau tidak mengerti, dan mampu secara langsung menolak hal tersebut bila bertentangan dengan nilai dasar kita.


Mitos 2: Saya akan berbuat hal-hal yang memalukan, seperti menggongong seperti anjing, dll.

Fakta: Asumsi ini berdasarkan pada Stage Hypnosis (utk entertainment) dan film-film semata. Pada kenyataannya, orang-orang yang ditampilkan pada acara-acara stage hypnosis di televisi merupakan orang orang yang mengajukan diri untuk tampil dan membiarkan diri mereka untuk menerima sugesti-sugesti yang bersifat konyol untuk keperluan entertainment. Ada beberapa persiapan yang dilakukan oleh seorang performer Stage Hypnosis terlebih dahulu dibelakang panggung sebelum acara tersebut dilakukan.


Mitos 3: Hipnotis merupakan sesuatu yang didasari dari ilmu hitam atau hal supranatural

Fakta: Hipnotis merupakan proses alami yang telah diteliti dan dipelajari secara ilmiah. Seorang hypnotist (ahli hipnotis) bukan merupakan seorang paranormal atau sebangsanya yang memiliki “kekuatan” gaib/ istimewa. Hypnosis/Hypnotherapy merupakan sebuah bidang ilmu yang berdasarkan riset secara klinis oleh beberapa orang psikolog terkemuka, seperti Dr. Sigmund Freud dan Dr. Carl Jung, dan oleh Dr. Milton Erikson dan Dr. John Kappas.


Mitos 4: Jika saya dihipnotis, maka saya tidak akan sanggup bangun sendiri

Fakta: Hypnosis merupakan proses yang sangat ilmiah dan aman, dan faktanya adalah bahwa hipnosis merupakan keadaan dengan kesadaran yang luar biasa. Banyak orang yang “menyimpulkan” atau “menyamakan” proses hypnosis dengan “lepasnya” jiwa atau pikiran dari tubuh, sebenarnya hypnosis tidak ada sama sekali hubungannya dengan perginya jiwa atau pikiran kita dari tubuh, sehingga kita mampu dan sanggup bangun walaupun sebelum penghipnotis membangunkan kita. Setiap saat ada keadaan yang bisa membahayakan jiwa kita, kita mampu secara natural keluar dari keadaan hypnosis dengan membuka mata dan berbicara, serta terbangun dalam kondisi yang sangat baik.


Mitos 5: Saya belum pernah memasuki kondisi hypnosis sebelumnya

Fakta: Tiap orang secara alami memasuki keadaan hipnotis paling sedikit 2 kali sehari, yaitu sebelum tidur di malam hari dan ketika bangun dari tidur di pagi hari. Ketika kita menonton film, menonton TV, mengendarai kendaraan, atau saat membaca buku yang mengasyikkan, dimana secara focus dan emosi kita terbawa kedalamnya, sebenarnya saat itupun kita memasuki sebuah kondisi di dalam pikiran kita (terdeteksi dengan alat pengukur secara ilmiah) yang kita sebut sebagai hypnotic trance. Jadi, sebenarnya kita seringkali memasuki kondisi hypnosis tanpa kita sadari.


Mitos 6: Hipnotis merupakan pengobatan yang ajaib

Fakta: Hipnotis merupakan metode yang relatif cepat untuk menanamkan kemajuan yang permanen, tetapi bukan merupakan keajaiban hypnosis. Setiap individu pasti mengalami perubahana pada kecepatannya sendiri-sendiri, dan berbeda untuk satu orang dengan orang yang lainnya. Mengapa? Karena proses hypnosis sangat bergantung pada keadaan pikiran, nilai dasar, dan banyak system di dalam pikiran bawah sadar seseorang. Berhati-hatilah pada orang-orang yang mengklaim keberhasilan dalam waktu cepat.


Mitos 7: Hipnotis merupakan perangkat yang hebat untuk membuat seseorang “mengaku”

Fakta: Sesi hypnotherapy merupakan sesi yang bersifat individu, privat, dan rahasia. Sesi hypnotherapy belum dapat digunakan untuk pengakuan di pengadilan. Hypnosis bukan merupakan alternatif untuk deteksi kebohongan. Memang dengan beberapa teknik tertentu, kita bisa mengetahui (secara garis besar) apakah seseorang mengatakan sesuatu kebenaran atau tidak, tetapi hypnosis tidak dapat digunakan untuk memaksa seorangpun untuk mengatakan “yang sebenarnya” atau mengakui sesuatu.


Mitos 8: Ketidak di hipnotis, saya akan kehilangan semua sensitifitasan saya terhadap sekeliling saya, dan tidak akan mengingat sesudahnya.

Fakta: Hypnosis bukan merupakan kondisi ketidaksadaran dalam tidur. Kenyataannya, banyak orang yang melaporkan memiliki peningkatan sensitifitasan, konsentrasi, dan fokus, dan bahkan dapat mendengar dengan lebih baik selama sesi berlangsung. Jika terjadi kejadian seseorang “lupa” apa yang telah terjadi setelah sesi Hypnosis, maka semua hal yang seolah-olah ia lupakan tersebut dengan mudah dapat diingat kembali dengan sebuah proses tertentu.


Mitos 9: Self-Hypnosis lebih aman, lebih baik, atau lebih efektif daripada datang ke seorang profesional Hypnotherapist

Fakta: Self-Hypnosis terkadang dapat berbahaya ketika tidak diajarkan oleh seorang instruktur profesional, seperti munculnya kebiasaan negatif atau kepercayaan tentang seseorang yang dimasukkan yang tergantung pada sugesti yang diberikan. Hal ini dapat menyebabkan stress dan masalah dalam jangka panjang. Hypnotherapy secara langsung mampu mengakses pikiran bawah sadar, sementara Self-Hypnosis tidak mampu sedalam itu. Terkadang beberapa value (nilai dasar) dan belief (kepercayaan) yang kita miliki sebelumnya, bisa menghambat kecepatan pengaruh dari self hypnosis.


Mitos 10: Saya tidak dapat di hipnotis

Fakta: Hal ini merupakan kepercayaan umum, yang diwaktu sekarang, telah terbukti salah. Yang membedakan hanyalah waktu dan proses yang dibutuhkan. Ada orang yang dalam waktu relatif cepat mampu masuk ke dalam kondisi Hypnosis, dan ada yang membutuhkan waktu cukup panjang. Faktor-faktor yang membuat seseorang mengalami kesulitan untuk masuk ke Hypnosis state antara lain faktor Stress, faktor gangguan dalam pancaindra (masalah di pendengaran atau kemampuan berbicara), maupun masalah dalam intelektual (keterbelakang mental, dll).

“The unexamined life is not worth living for man”

(Socrates, Dialogues – Apology)

“Kehidupan yang tak teruji bukan kehidupan yang berharga bagi seseorang”, demikian Plato mengutip kata-kata dari Socrates di dalam bukunya Dialogues dan Apology. Sebenarnya jika seseorang menyelidiki kehidupan secara mendalam, ia akan menemukan bahwa yang dicari oleh jiwa adalah mengetahui makna hidup ini. Para saintis mencarinya di dalam dunia ilmu pengetahuan, para artis di dalam seninya, para filosof mencarinya di dalam filsafat. Apapun minat masing-masing orang tentu berbeda-beda, namun kecenderungan yang sebenarnya adalah sama, yaitu menemukan arti hidup itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa jiwa datang ke dunia ini adalah untuk tujuan ini, untuk menyadari dan memahami makna kehidupan ini.

Baik secara material maupun spiritual setiap jiwa sedang berjuang untuk tujuan ini dengan jalannya masing-masing.

Kita dapat melihat ini pada tingkah laku bayi. Keinginan bayi melihat sesuatu, menyobek-nyobeknya dan melihat ada apa di dalamnya, menunjukkan hasrat jiwa untuk melihat kehidupan, untuk memahami kehidupan. Tentu saja efek dan pengaruh kehidupan di muka bumi ini membuat manusia mabuk. Dan karena mabuk atau lupa diri inilah ia menjadi sedemikian hanyut dengan dirinya sendiri serta kepentingannya sendiri hingga ia tersesat dan lalai dengan watak pembawaannya sendiri. Sebenarnya hasrat manusia yang paling dalam bukan mencari makanan atau kenyamanan. Kecenderungannya yang paling dalam adalah mencari pemahaman atas kehidupan. Seorang anak akan terus-menerus bertanya kepada orang tuanya, ‘Apa ini? Apa itu? Apa maksudnya ini semua?’ Ini menunjukkan adanya keinginan yang terus-menerus untuk mengetahui makna kehidupan, sebuah keinginan yang terus berlaku sepanjang hidup.

Apakah hal ini memiliki pelajaran atau pengajaran kepada kita?

Tentu saja! Hal ini mengajarkan kita tentang suatu prinsip bahwa sumber dan tujuan alam semesta adalah satu dan sama, bahwa Pencipta menciptakan segalanya untuk mengenal ciptaan-Nya. Tetapi bagaimana sang Pencipta melihat dan memahami ciptaan-Nya? Tidak saja di dalam aspek yang paling tinggi dan paling dalam, tetapi juga melalui segala sesuatu, Tuhan sedang terus-menerus memperhatikan dan memahami ciptaan-Nya.

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS 55 : 29)

Maka bila ada yang bertanya, ‘Apakah seni itu? Apakah seni itu buatan manusia?’ Jawabannya adalah, ‘Ya, seni memang buatan manusia, tetapi juga buatan Tuhan melalui tangan manusia.’ Jika demikian bagaimana mekanisme yang telah dan sedang berlaku di alam semesta?

Sejatinya, alam ini bekerja, akan tetapi bekerja untuk tujuan apa?

Jawabnya : bekerja untuk memahami dirinya sendiri!

Lalu bagaimana mekanisme dunia itu sendiri? hidupkah ia ataukah mati? Sebenarnya, apa pun yang kita sebut hidup maka ia hidup, dan apa pun yang kita pikir ia mati juga sebenarnya tidak mati. Ia juga hidup!

Kita biasa mengatakan ini benda mati dan itu benda hidup! Padahal sebenarnya tidak ada satu pun benda yang mati, semuanya adalah makhluk hidup, hatta sebutir debu.

YANG TERTIDUR DAN YANG TERJAGA

Demikian juga, tidak ada bedanya antara mengambil jalan pintas dengan mengambil jalan yang lebih panjang. Yang satu berkeliling dulu dan yang lain mengambil jalan lurus. Tujuannya sama.

Yang berbeda ketika berada dalam perjalanannya, yang satu berjalan kaki, sementara yang lain naik kendaraan, atau yang satu tersadarkan di dalam perjalanannya, yang lainnya tertidur dan terlena dalam perjalanannya, sehingga ia tidak melihat pemandangan-pemandangan indah selama di perjalanan. Rasulullah saww justru bersabda, “Manusia dalam keadaan tidur dan bila ia mati maka ia baru bangun (tersadarkan)” 1]

Imam Ali as berkata, “Ahlud dunia karakbin yusaru bihim wa hum niyaam”, artinya : Para ahli duniawi itu seperti pengendara yang berja­lan dengan kendaraannya sementara mereka tertidur” 2]

Takdir dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang satu adalah mekanisme yang mengaktifkan takdir ini. Bagian yang lain adalah jiwa yang menyadarkan ini. Oleh karena itu mekanisme adalah mesin, sedangkan jiwa yang berada di dalamnya terdapat ahli mesin yang senantiasa sibuk agar mekanisme ini terus bekerja dan menghasilkan apa yang mesti dihasilkan.

Ada banyak metode dan cara yang manusia gunakan untuk mengetahui dan memahami. Dan pikiran merupakan sarana dan alat untuk mencapai tujuan. Sesuai dengan kesiapan alatnya, jiwa mengalami dan mengenal hidup. Kondisi pikiranlah yang memampukan jiwa untuk melihat kehidupan dengan jelas. Pikiran juga bisa diumpamakan sebagai air. Bila air keruh, maka sulit bagi kita untuk bercermin di atas permukaannya. Tetapi bila air itu jernih, maka kita dapat bercermin di atasnya. Sayangnya, manusia senantiasa hanya mengejar nilai-nilai yang bersifat materi, sehingga ia hanyut di dalam kehidupan ini dan kehilangan berbagai manfaat yang sesungguhnya dari hidup ini. Pada zaman sekarang ini manusia mendefinisikan peradaban sebagai kemajuan komersial atau industrial, ia menjadi ideal setiap jiwa. Dan menjadi sulit bagi jiwa untuk mencapai ketenangan untuk menyelesaikan tujuan yang terlahir dari jiwa itu sendiri. Hal ini bukan berarti perkembangan komersial dan industrial itu tidak perlu bagi kehidupan manusia. Tidak sama sekali! Sepanjang ia tidak meruntuhkan atau merintangi tujuan hidup manusia itu sendiri! Namun jika yang dilakukan sebaliknya, meski secara lahiriah ia meraih kemajuan, sebenarnya ia telah menyia-nyiakan hidupnya dan itu berarti hidupnya telah hancur.

Jika di Timur ada takhyul, maka di Barat pun ada. Ada takhayul yang menyebutkan bahwa hewan seperti kuda, kucing, anjing, burung, bisa memberi peringatan kepada seseorang bahwa ia akan jatuh sakit atau meninggal dunia, dan hal-hal lainnya yang serupa, dan terjadi sebagaimana yang diduga atau diramalkan, namun mengapa manusia tetap tidak bisa memahami dan merasakan hidup ini sebagaimana yang dirasakan oleh binatang? Mungkin jawaban sementara yang bisa disampaikan adalah bahwa binatang hidup lebih alamiah ketimbang manusia masa kini. Mereka lebih dekat dengan alam ketimbang manusia yang hanyut dalam kehidupan artifisial. Thomas Browne mengatakan, “Segala sesuatu adalah tiruan, sedangkan alam adalah karya seni Tuhan.” 3]

Jika binatang dapat mengetahui tanda-tanda alam maka selayaknya manusia dapat lebih mengetahuinya. Pengetahuan seperti inilah yang merupakan kepuasan atas hidupnya, bukan semua yang bersifat fisik dan lahiriah. Lalu dimanakah kekayaan manusia? Kekayaannya ada dalam pengetahuannya. Jika kekayaan hanya berada di bank dan tidak di dalam ilmu pengetahuannya, maka berarti ia tidak memilikinya. Ia ada di bank.

Semua yang diminati, apakah itu nilai, titel, kedudukan dan semua bentuk kepemilikan, dimana semua itu? Di luarkah? Tentu saja tidak!

Ini karena semua yang berada di luar hanya dapat diketahui melalui pengetahuan yang berada di dalam. Oleh karenanya semua kepemilikan yang sesungguhnya tidak lain yang berada di dalam. Dan yang berada di dalam itu adalah HATI, karenanya hati mesti dikembangkan, dan harus disesuaikan dengan ritme alam dan titian nadanya yang tepat. Jika ia sesuai dengan ritme alam dan pola-pola nadanya, maka ia akan dapat mencapai tujuannya.

LIMA METODA UNTUK MERASAKAN ILMU KEHIDUPAN

Ada 5 metoda yang berbeda, yang dengan kelima cara tersebut ilmu kehidupan dapat dirasakan. Cara pertama yang banyak kita ketahui dan kaum wanita dalam hal ini melebihi kaum pria, yaitu KESAN. Seringkali jika kita datang ke sebuah rumah atau menemui seseorang, maka yang pertama kali kita dapatkan sebelum berbicara dengan orang tersebut adalah kesan, apakah itu kesan yang menyenangkan atau pun yang tidak menyenangkan. Sebenarnya ini merupakan ilmu atau pengetahuan atas orang tersebut. Kadang-kadang ketika kita melihat seseorang, seolah kita ingin mengatakan, ‘Menjauhlah dariku!’.

Atau terkadang pada saat pertamakali kita bertemu dengan seseorang, tiba-tiba saja kita merasa tertarik padanya tanpa tahu alasannya.

Pikiran kita tidak memahami, namun jiwa kita secara ‘ajaib’ telah lebih dulu tahu. Bukan saja setiap orang mendapatkan kesan dari orang yang ia temui, bahkan jika ia memiliki kepekaan, ia pun dapat merasakan kesan dari surat yang datang dari seorang yang tak dikenal sekalipun. Banyak yang mengatakan bahwa mereka dapat mengatakan watak seseorang dengan ilmu physiognomy 4] atau phrenology 5]. Akan tetapi jika mereka tidak memiliki indera kesan ini di dalam hati mereka, meskipun mereka telah membaca ribuan buku tentang physiognomy atau phrenology, maka mereka tidak akan pernah memperoleh kesan yang sebenarnya.

Jadi indikasi apakah ini? Ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar dari awal hingga akhir bukanlah milik dunia material.

Ada cara lain, yaitu cara intuitif. Kemudian, inspirasi, visi dan revelasi atau wahyu. Albert Einstein mengatakan,”Seseorang memulai hidupnya sesaat ia dapat hidup di luar kediriannya” (Wisdom of the Ages)

Catatan Kaki

1] Imam Khomeini, Rahasia Basmalah dan Alhamdulillah & Empat Puluh Hadits Bab Hadits Penuntut Ilmu hal. 44.

2] Nahjul Balaghah, Hikam: 64.

3] Sir Thomas Browne, 1605-1682, seorang ahli fisika Inggeris dan penulis essay, ia lahir di London, dan menyelesaikan studinya di Winchester College, University of Oxford, dan juga di Universities of Montpellier, Padua, serta Leiden.

4] Physiognomy : sebuah praktek yang sangat tidak ilmiah yang melibatkan sifat-sifat manusia menurut ekspresi wajah.

5] Phrenology : Franz Joseph Gall, 1758-1828, seorang dokter ahli anatomi Jerman yang lahir di Tienfenbronn. Gall mengembangkan sebuah sistem untuk mempelajari tengkorak, yang disebut phrenology. Dengan phrenology ini, ia menyatakan dapat mengungkap intelejensia dan kepribadian seseorang. Gall percaya bahwa garis bentuk tengkorak seseorang menunjukkan wilayah otak yang mengontrol berbagai kemampuan dan emosi tertentu. Walaupun phrenology sekarang dianggap sebagai ilmu pseudosains, Gall diakui oleh komunitas saintifik karena kontribusinya yang penting kepada pemahaman terdahulu mengenai lokasi-lokasi fungsi otak. Dialah saintis pertama yang mengidentifikasi perbedaan antara materi abu-abu dan putih di dalam otak dan sum-sum tulang belakang. Teorinya bahwa fungsi-fungsi mental yang berada di wilayah tertentu di dalam otak terbukti benar oleh penemuan-penemuan ahli anatomi pada abad pertengahan kesembilanbelas. Tetapi penemuan yang serupa ini dengan jelas membuktikan bahwa tulang tengkorak terlalu tipis untuk merefleksikan lokasi-lokasi dari fungsi mental yang berbeda-beda di dalam otak.